Thursday, February 25, 2010

Sama-Sama Menjunjung Kehormatan Umat Islam

Sambungan :-
10. Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rabiiy ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Ketika saya sedang salat dan hendak memperpanjangnya, tiba-tiba mendengar tangisan anak kecil, maka kusegerakan salat, karena tidak ingin merepotkan ibunya.” (HR. Bukhari).

11. Dari Jundub bin Abdullah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang mengerjakan
salat Subuh berjamaah, maka ia berada dalam jaminan Allah. Oleh karena itu, jangan sampai Allah meminta jaminan sedikitpun. Dan siapa saja yang dituntut jaminan-Nya, maka Allah akan menemukan, kemudian menjerumuskannya ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari).

12. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesama muslim itu bersaudara. Karena itu, jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

13. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesama muslim, jangan mengkhianati, mendustai dan membiarkannya. Sesama muslim haram mengganggu kehormatan, harta dan darahnya. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Tirmidzi).

14. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kalian saling dengki, saling menipudan saling membelakangi, dan jangan menjual atas penjualan orang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. Sesama muslim bersaudara. Oleh karena itu, jangan menganiaya, membiarkan dan menghinanya. Takwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya, beliau mengucapkan tiga kali). Seseorang cukup dianggap jahat, apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Muslim).

1 Berpaling dan acuh serta menjadikannya seperti sesuatu yang dibelakang punggung.

15. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Tidaklah dianggap sempurna iman seseorang, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

16. Dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tolonglah saudaramu yang berbuat aniaya dan yang teraniaya.” Kemudian ada yang bertanya : “Wahai Rasulullah, saya menolongnya jika ia teraniaya, lalu bagaimana saya menolongnya jika ia berbuat aniaya?” Beliau menjawab : “Kamu cegah atau kamu larang dia dari berbuat aniaya. Demikianlah cara menolongnya.” (HR. Bukhari).

17. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada lima, yaitu membalas salam, menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, memenuhi undangannya dan menjawab apabila ia bersin.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadis riwayat Muslim dikatakan, Rasulullah bersabda : “Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam, yaitu: Apabila bertemu, ucapkanlah salam. Apabila ia mengundangmu, penuhilah undangannya. Apabila ia meminta nasihat, nasihatilah dia. Apabila ia bersin kemudian ia membaca “alhamdulillah”, maka jawablah (dengan ucapan “yarhamukallah” (semoga Allah mengasihimu). Apabila ia sakit, jenguklah dan apabila ia meninggal iringilah jenazahnya.” (HR. Muslim).

18. Dari Abu ‘Umarah Al-Barra’ bin ‘Azib ra., ia berkata : “Rasulullah SAW menyuruh dan melarang kami, dalam tujuh hal. Yaitu, beliau menyuruh kami untuk menjenguk orang yang sakit, mengiring jenazah, menjawab orang yang bersin ketika mengucapkan Alhamdulillah, menepati sumpah, menolong orang yang teraniaya, mendatangi undangan dan menyebarluaskan salam. Kemudian beliau melarang kami dari memakai cincin emas, minum dari bejana perak, memujimemuji keledai, bersikap keras, mengenakan kain sutera baik sutera tipis maupun yang tebal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan : “Dan menanyakan barang yang hilang.” Sebagai tambahan tujuh yang pertama.

Sama-Sama Kita Menjunjung Kehormatan Umat Islam


Allah Ta’ala berfirman 22:30 ”Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”

Allah Ta’ala berfirman 22:32 ”Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”

Allah Ta’ala berfirman 15:88 ”Janganlah sekali-kali kamu menujukan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”

Allah Ta’ala berfirman 5:32 ”Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”

1. Dari Abu Musa ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Orang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu bagian dengan yang lain saling mengokohkan.” Sambil memperagakan dengan menyusupkan jari-jemarinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Dari Abu Musa ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang berjalan di masjid dan pasar sedangkan ia membawa anak panah, hendaklah ia menyembunyikan atau memegang ujungnya agar jangan sampai mengenai (mengganggu) seseorang diantara umat Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW mencium cucunya Al-Hasan bin Ali. Waktu itu Al-Aqra’ berada di hadapan beliau, kemudian Al-Aqra’ berkata : “Wahai Rasulullah, saya mempunyai sepuluh orang anak, dan belum pernah kucium seorangpun.” Rasulullah SAW menoleh kepada Al-Aqra’ seraya bersabda : “Siapa saja yang tidak mau mengasihani, maka tidak akan dikasihani.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Dari Aisyah ra., ia berkata : “Beberapa orang Badui datang menghadap Rasulullah SAW, sebagian bertanya kepada yang lain “Apakah kamu biasa mencium anak-anakmu? Sebagaian menjawab: “Ya,” dan yang lain ada yang menjawab : “Demi Allah, kami tidak pernah menciumnya.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda : “Bagaimana jika Allah mencabut rasa kasih sayang dari kalian ? (HR. Bukhari dan Muslim).

6. Dari Jarir bin Abdullah ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja yang tidak mengasihi sesama manusia, maka Allah tidak akan mengasihinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

7. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Apabila salah seorang dari kamu menjadi Imam salat bagi orang banyak hendaknya ia memperingan (mempercepat)nya, karena di antara mereka, ada orang yang lemah, ada yang sakit dan ada pula yang sudah lanjut usia. Apabila ia salah sendirian, perpanjanglah sesuai kemampuannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan : “karena di antaranya ada yang mempunyai keperluan lain.”

8. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Apabila Rasulullah SAW meninggalkan amal yang beliau sukai, hal itu dikarenakan beliau khawatir jika umat Islam menganggap, bahwa amal itu diwajibkan atas mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

9. Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Nabi SAW melarang umat Islam puasa wishal (bersambung siang malam), dikarenakan rasa sayang terhadap mereka.” Para sahabat berkata : “Sesungguhnya engkau sendiri berpuasa Wishal.” Beliau menjawab : “Sesungguhnya keadaanku lain dengan keadaanmu. Aku selalu diberi makan dan minum oleh Tuhanku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya : Aku diberi kekuatan oleh Allah sebagaimana kekuatannya orang yang makan dan minum.

Monday, February 15, 2010

Bab 25 : Perintah Tidak Berbuat Aniaya

10. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-Ash ra., ia berkata : “Kirkirah adalah orang yang menjaga perbekalan Nabi SAW Ketika ia meninggal dunia. Rasulullah SAW bersabda : “Tempatnya di dalam neraka.” Para sahabat kemudian menyelidiki sebab musabab ia masuk neraka, kemudian mereka menemukan sebabnya, bahwa ia pernah menyembunyikan mantel hasil rampasan perang.” (HR.Bukhari)

11. Dari Abu Bakrah Nufa’i bin Al-Harits ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Sesungguhnya masa itu berputar, sebagaimana ketika Allah menjadikan langit dan bumi. Setahun, dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah bulan mulia, yang tiga berturut-turut, yaitu : “Dzulqo’dah, Dzul hijjah dan Muharram, serta bulan Rajab, di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. Kemudian Nabi bertanya : “Bulan apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami menyangka, akan diganti dengan yang lain. Beliau bersabda : “Bukankah ini bulan Dzul hijjah ?” Kami menjawab : “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Negeri apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami menyangka, akan diganti dengan nama yang lain. Beliau bersabda: “Bukankah ini tanah Haram?” Kami menjawab: “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Hari apakah ini ?” Kami menjawab : “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau diam, sehingga kami menyangka, kalau-kalau akan diganti dengan nama yang lain. Kemudian beliau bersabda: “Bukankah ini hari Nahr ?” Kami menjawab : “Benar.” Beliau lantas bersabda: “Sesungguhnya darah, harta dan kehormatanmu adalah mulia, sebagaimana mulianya hari, negeri dan bulanmu ini. Kamu semua akan bertemu dengan Tuhanmu dan Dia akan mempertanyakan tentang segala amal perbuatanmu. Ingatlah, jangan sampai kamu berbalik menjadi kafir sepeninggalku, di mana salah seorang di antara kalian membunuh yang lain. Ingatlah, hendaklah yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir, mungkin saja orang yang diberi tahu itu lebih taat dari orang yang langsung mendengarnya.” Kemudian beliau bersabda : “Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya ?” Kami menjawab : “Ya.” Beliau bersabda : “Ya Allah, saksikanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

12. Dari Abu Umamah Iyas bin Tsa’labah Al-Haritsiy ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah benar-benar mewajibkan neraka baginya dan diharamkan surga untuknya.” Setelah seorang sahabat bertanya : “Walaupun yang dirampas itu sesuatu yang Amat sedikit wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Walau sekecil batang kayu arok.” (HR. Muslim)

13. Dari ‘Adiy bin ‘Amirah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang kami serahi tugas, lalu ia menyembunyikannya walaupun sekecil jarum atau lebih kecil dengan maksud untuk mengambilnya, kelak di hari kiamat ia datang dengan membawa apa yang disembunyikannya.” Berdirilah seorang kulit hitam dari sahabat Anshar, yang seakan-akan saya pernah melihatnya, ia kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, terimalah kembali tugas yang telah engkau serahkan kepada saya.” Beliau bertanya : “Mengapa demikian ?” Ia menjawab : “Karena saya mendengar engkau bersabda begini dan begitu.” Beliau bersabda : “Sekarang saya tegaskan siapa saja yang saya serahi tugas, maka ia harus melaksanakannya, baik mendapatkan hasilnya sedikit maupun banyak. Dan apa saja yang diberikan kepada dirinya, maka ia boleh mengambilnya dan apa yang dilarang untuk dirinya, maka janganlah ia mengambilnya.” (HR. Muslim)

14. Dari Umar bin Khaththab ra., ia berkata : “Ketika perang Khaibar selesai, beberapa sahabat Nabi SAW pulang dan mereka menyebut-nyebut, bahwa si Fulan mati syahid, sampai akhirnya mereka bertemu dengan seseorang di jalan, mereka mengatakan: “Si Fulan mati syahid.” Kemudian Nabi SAW bersabda : “Tidak, saya telah melihatnya berada di neraka karena ia menyembunyikan kain mantel hasil rampasan perang yang belum dibagi.” (HR. Muslim)

15. Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rib’iy ra., dari Rasulullah SAW, waktu itu beliau berdiri di tengah-tengah para sahabat dan mengatakan, bahwa berjihad (berjuang) di jalan Allah dan beriman kepada Allah adalah paling utama amalnya. Kemudian seseorang berdiri dan bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau saya terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosa saya terampuni ?” Rasulullah SAW menyatakan : “Ya, apabila kamu terbunuh di jalan Allah sedangkan kamu tabah, hanya mengharapkan pahala dari Allah, bersemangat dan pantang mundur.” Kemudian Rasulullah SAW bertanya : “Bagaimana pertanyaanmu tadi ?” Ia menjawab : “Bagaimana seandainya saya terbunuh di jalan Allah, apakah dosa-dosa saya terampuni ?” Maka Rasulullah SAW menjelaskan : “Ya, apabila kamu tabah, hanya mengharapkan pahala dari Allah, bersemangat dan pantang mundur, kecuali hutang. Sesungguhnya Jibril mengatakan yang demikian itu kepadaku.” (HR. Muslim)

16. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Tahukan kalian orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab: “Orang bangkrut adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta benda.” Beliau bersabda : “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa salat, puasa dan zakat, tetapi ia suka mencaci maki, menuduh, makan harta orang lain, menumpahkan darah, serta memukul orang lain. Kemudian pahalanya diberikan kepada orang yang dianiayanya. Jika kebaikannya sudah habis sedangkan kesalahan-kesalahannya belum terbayar, maka ia dilemparkan di tengah-tengah orang-orang yang pernah dianiayanya, yang akhirnya ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

17. Dari Ummu Salamah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya aku adalah manusia biasa sedangkan kalian mengadukan persoalan kepadaku. Mungkin salah seorang di antara kalian lebih pandai menjelaskan hujjah (argumentasi)nya daripada yang lain, kemudian saya putuskan baginya sesuai keterangan yang saya dengar. Maka, siapa saja yang telah aku menangkan dengan mengalahkan yang benar, itu berarti sama saja saya memberinya sepotong (bagian) api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

18. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Rasulullah SAW bersabda : Orang mukmin senantiasa berada dalam kelapangan dalam agamanya, selama ia tidak menumpahkan darah yang haram.” (HR. Bukhari)

19. Dari Khaulah binti Tsamir Al-Anshariyah, ia adalah istri Hamzah ra., ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya orang yang menyalahgunakan harta Allah (baitul mal), di hari kiamat mereka dimasukkan neraka.” (HR. Muslim).

Bab 25 : Perintah Tidak Berbuat Aniaya

Allah Ta’ala berfirman QS 40:18. ”Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang lalim tidak mempunyai teman setia seorang pun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafaat yang diterima syafaatnya”

Allah Ta’ala berfirman QS 22:71. ”Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang lalim sekali-kali tidak ada seorang penolong pun”

1. Dari Jabir ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Takutlah kalian pada kezaliman karena kezaliman itu merupakan kegelapan pada hari kiamat, dan takutlah kamu pada kekikiran sebab orang-orang sebelum kalian binasa karena kekikiran, dan hal itulah yang menyebabkan mereka mengadakan pertumpahan darah dan menghalalkan yang haram.” (HR.Muslim)

2. Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya kalian pada hari kiamat diperintahkan untuk mengembalikan semua hak yang diambil kepada yang berhak, sehingga kambing yang tidak bertanduk karena ditanduk yang lain, diberi hak untuk membalas kepada kambing yang bertanduk.” (HR.Muslim)

3. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : “Ketika kami memperbincangkan haji Wada’, Nabi SAW berada di antara kami. Kami belum tahu apakah sebenarnya haji Wada’ itu. Tiba-tiba Rasulullah SAW memuji dan menyanjung Allah serta menceritakan tentang Al-Masih Dajjal, sambil memperpanjang ceritanya, beliau bersabda : “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah melainkan ia memperingatkan umatnya. Nabi Nuh telah memperingatkan umatnya, demikian pula dengan Nabi sesudahnya. Ketika Dajjal keluar di tengahtengah kalian, maka apapun sifat yang disembunyikannya, niscaya terungkap bagi kalian. Sesungguhnya Tuhanmu tidaklah buta mata sebelah, tetapi Dajjal matanya buta sebelah kanan, seperti buah anggur. Ingatlah, sesungguhnya Allah telah mengharamkan darah dan hartamu sebagaimana haramnya hari ini, di negeri ini, dan di bulan ini. Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikannya ?” Para sahabat menjawab : “Ya.” Kemudian Nabi berdoa : “Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah, Ya Allah saksikanlah! Berhati-hatilah dan ingatlah, jangan kalian kembali kafir sepeninggalku, ketika salah seorang di antara kalian membunuh yang lain!” (HR.Bukhari)

4. Dari Aisyah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang mengambil hak orang lain walaupun hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi.” (HR.Bukhari dan Muslim)

5. Dari Abu Musa ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah memberi kebebasan kepada orang yang berlaku aniaya, tetapi apabila datang siksaan-Nya, maka ia tidak akan dapat menghindarinya, kemudian beliau membaca ayat : “WAKADZAALIKA AKHDZU RABBIKA IDZAA AKHADZAL QURAA WAHIYA DZAALIMATUN INNA AKHDZAHUU ALIIMUN SYADIID” (Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih lagi keras).” (HR.Bukhari dan Muslim)

6. Dari Mu’adz ra., ia berkata : Rasulullah SAW mengutus saya sebagai gubernur Yaman. Beliau berpesan : “Sesungguhnya kamu akan menghadapi kaum ahli kitab, ajaklah mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Apabila mereka mematuhi ajakanmu, beri tahukan kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan untuk mereka mengerjakan salat lima kali sehari semalam. Apabila mereka telah mematuhinya (memenuhinya), maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan untuk mereka menunaikan sedekah yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orangorang fakir miskin. Apabila mereka telah mematuhinya, maka lindungilah kehormatan dan harta bendanya. Takutlah kamu terhadap doa orang yang teraniaya karena tidak ada tirai yang menghalangi antara doanya dengan Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

7. Dari Abu Humaid Abdurrahman bin Sa’ad As-Sa’idiy ra., ia berkata : “Rasulullah SAW menugaskan seseorang dari suku Azdi yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah untuk mengumpulkan sedekah, tatkala orang itu datang kepada beliau, ia berkata : “Ini untuk engkau, dan ini hadiah untuk saya.” Rasulullah SAW kemudian berdiri di atas mimbar, dan membuka khutbahnya dengan menyanjung Allah SWT., sambil melanjutkan khutbahnya : “Sesungguhnya aku telah menugaskan seseorang di antara kalian, tugas itu diberikan Allah kepadaku, kemudian ia datang dan berkata : “Ini untuk engkau dan ini hadiah untuk saya.” Andaikata ia memang benar, mengapa ia tidak duduk saja di rumah ayah dan ibunya, sehingga hadiah itu diberikan padanya. Demi Allah, siapa saja di antara kalian yang mengambil sesuatu yang bukan haknya niscaya di hari kiamat ia menghadap Allah sambil memikul yang diambilnya di dunia. Demi Allah, saya tidak ingin melihat seorang pun di antara kalian menghadap- Nya dengan memikul unta, lembu, atau kambing yang mengembik.” Kemudian beliau menengadahkan kedua tangannya hingga terlihat putih ketiak beliau, seraya bersabda : “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?“ (HR.Bukhari dan Muslim)

8. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Siapa saja yang pernah menganiaya saudaranya, baik kehormatannya maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia minta maaf Semarang juga sebelum datang saatnya dinar dan dirham tidak berguna. Jika tidak, apabila ia mempunyai amal saleh, maka amalnya akan diambil sesuai dengan kadar penganiayaan, namun apabila ia tidak mempunyai amal kebaikan, maka kejahatan orang yang dianiaya itu diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari)

9. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Orang Islam adalah orang yang menjaga umat Islam lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Thursday, February 11, 2010

Pembuka Fikiran Ummat Tentang Aurat



Ada yang berkata iman di hati, tiada kaitan dengan amalan. Maka popular ayat-ayat ini "Kami pakai seksi, tapi hati kami baik", "Allah nilai taqwa kita, bukan pakaian kita." Dan banyak lagi.

Tahukah kita bahawa ideologi ini adalah satu kesinambungan ideologi lama dahulu. Apa nama ideologi itu. Namanya Murjiah. Tak mengapa, posting kali ini bukan mahu berbicara tentang ideologi Murjiah. Posting kali ini ingin bercerita tentang tudung. Ya, tudung wanita untuk menutup aurat, bukan tudung untuk saji mahupun tudung periuk.

Baik! Saya menyatakan bahawa tudung adalah salah satu nilai aqidah kita. Jangan ada yang cuba mahu loyar buruk di sini berkata bahawa kalau pakai tudung, tapi baju sendat, singkat nampak pusat. Saya bercerita tentang tudung muslimah ya, lagipun normalnya orang Islam Melayu kalau nak tutup aurat mesti pakai tudung. Pakai tudung tak semestinya tutup aurat, tapi normalnya di Malaysia kalau nak tutup aurat mesti pakai tudung. Mesti difahami hal ini.

Kita orang Islam, bercerita tentang agama mestilah dengan sumber wahyu. Maka saya mahu bercerita apa yang al-Quran cerita.

Al-kisah di zaman dahulu kala, ketika Rasulullah SAW masih hidup di muka bumi ini, dan para sahabat dan sahabiah (sahabat-sahabat nabi yang perempuan) masih hidup bertebaran di muka bumi, maka turunlah satu ayat al-Quran. Ayat apa itu?


وَقُللِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَمِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُوْلِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِن زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُون

Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman supaya menyekat pandangan mereka (daripada memandang yang haram) dan memelihara kehormatan mereka dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka kecuali yang zahir daripadanya; dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka; dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan tubuh mereka melainkan kepada suami mereka atau bapa mereka atau bapa mertua mereka atau anak-anak mereka, atau anak-anak tiri mereka atau saudara-saudara mereka atau anak bagi saudara-saudara mereka yang lelaki atau anak bagi saudara-saudara mereka yang perempuan, atau perempuan-perempuan Islam atau hamba-hamba mereka atau orang gaji dari orang-orang lelaki yang telah tua dan tidak berkeinginan kepada perempuan atau kanak-kanak yang belum mengerti lagi tentang aurat perempuan dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, supaya kamu berjaya. (Surah an-Nur:31)

Inilah di ayatnya. Mari kita lihat bagaimana reaksi-reaksi wanita di zaman itu.

Saidatina Aisyah RA menceritakan: Tatkala turun ayat "dan hendaklah mereka menutup belahan leher bajunya dengan tudung kepala mereka". maka mereka segera merobek-robek kain-kain mereka dan bertudung dengannya. (Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tafsir, Bab Tafsir Surah anNur).

Perempuan-perempuan zaman Rasulullah SAW dengan penuh kekuatan dan ketaatan lantas mengoyak-ngoyak kain yang ada untuk dijadikan penutup aurat mereka.

Saya hanya mahu menyatakan tudung itu adalah lambang akidah.

Kenapa? Kerana tudung inilah salah satu hal yang membezakan kita dengan orang kafir.

Apa buktinya? Lihatlah apa yang terjadi di Turki. Si kafir pembela-pembela aliran Sekular mengharamkan pemakaian tudung. Apakah kita fikir mereka akan mengharamkan pemakaian tudung sekiranya tudung ini tiada nilai di dalam Islam. Isunya bukanlah kerana kain itu bernama tudung, isunya kerana pemakaian tudung itulah salah satu lambang akidah Islam. Maka untuk memadamkan cahaya akidah Islam daripada terzahir ke mata manusia, salah satu langkahnya ialah mengharamkan pemakaian tudung.

Lihat, bukankah itu menunjukkan bahawa si kafir bedebah itu turut faham bahawa tudung itu ada nilai akidah.

Sekiranya tudung itu tiada nilai di dalam Islam, nescaya si kafir itu tidak akan mengharamkan pemakaiannya. Bahkan mungkin si kafir itu akan menjadikan ia sebagai satu fesyen yang popular. Tapi kerana ia ada nilai akidah, si kafir tidak mahu menerimanya. Nampaknya si kafir ini amat memahami ayat terakhir surah al-Kafirun "Bagimu agamamu, bagiku agamaku".

Itulah nilai tudung. Tapi nilai itu seakan hilang di bumi Malaysia tercinta ini. Kerana apa? Kerana nilai akidah pada tudung itu tidak dapat dilihat. Nilai akidah pada tudung mungkin hanya dapat dilihat apabila ia diharamkan oleh pihak-pihak kafir. Adakah kita mahu menunggu sehingga ia diharamkan di dalam negara kita, baru kita mahu memahami ia ada nilai akidah.

Mungkin, sudah tiba masanya pelajar-pelajar sekolah ditanamkan kefahaman bahawa menutup aurat itu adalah satu nilai akidah. Bukan hanya isu feqh dan hukum sahaja. Ia adalah nilai aqidah, kerana itu si kafir memusuhi sehelai kain bernama tudung itu.

Wallahu'alam

Monday, January 18, 2010

NASIHAT BUAT DIRIKU DAN SAHABAT







  • Allah Ta’ala berfirman ”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” QS Al-Hujurat : 10
  • Allah Ta’ala berfirman ”Dan aku memberi nasihat kepadamu” QS Al-A’raf : 62
  • Allah Ta’ala berfirman ”Dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu” QS Al-A’raf : 68

1. Dari Abu Ruqayyah Tamin bin Aus Ad-Daariy ra., ia berkata : “Nabi SAW bersabda : “Agama itu adalah nasihat. “Kami bertanya: ‘Bagi siapa?: Belaiu bersabda : “Bagi Allah, kitab- Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam dan umat Islam pada umumnya.” (HR. Muslim).

2. Dari Jarir bin Abdullah ra., Ia berkata : “Saya berbai’at kepada Rasulullah SAW untuk senantiasa mengerjakan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasihat kepada sesama muslim.” (HR Bukhari dan Muslim).

3. Dari Anas ra., dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim).